Scroll untuk baca artikel
Iklan 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BerauBeritaEkonomiPariwisata

Hari Konservasi Mangrove: Saatnya Memperkuat Pengelolaan Berbasis Masyarakat

69
×

Hari Konservasi Mangrove: Saatnya Memperkuat Pengelolaan Berbasis Masyarakat

Sebarkan artikel ini

Oleh: Gunawan Wibisono

Peringatan Hari Konservasi Mangrove setiap 26 Juli menjadi pengingat akan pentingnya ekosistem mangrove bagi keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat pesisir. Mangrove bukan sekadar kumpulan pohon yang tumbuh di kawasan pantai, tetapi merupakan benteng alami yang melindungi pesisir dari abrasi, gelombang besar, dan dampak perubahan iklim. Selain itu, mangrove juga menjadi habitat berbagai jenis ikan, udang, kepiting, dan satwa lainnya yang menopang kehidupan masyarakat.

banner 325x300

Kabupaten Berau merupakan salah satu daerah yang memiliki kawasan mangrove terluas di Provinsi Kalimantan Timur. Berbagai sumber menyebutkan luas mangrove di wilayah ini mencapai sekitar 80 ribu hektare yang tersebar di kawasan hutan dan Areal Penggunaan Lain (APL). Besarnya luasan tersebut merupakan aset ekologis yang sangat bernilai, namun sekaligus menghadapi tantangan besar, terutama pada kawasan APL yang relatif lebih rentan terhadap alih fungsi lahan dan deforestasi akibat berbagai aktivitas pembangunan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya konservasi mangrove tidak cukup hanya mengandalkan regulasi pemerintah. Diperlukan model pengelolaan yang mampu melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki pengetahuan dan kearifan tradisional yang sangat berharga dalam menjaga kelestarian mangrove. Pengalaman hidup berdampingan dengan alam membuat mereka memahami karakteristik kawasan serta cara pemanfaatannya secara berkelanjutan.

Di Kabupaten Berau, praktik pengelolaan mangrove berbasis masyarakat telah berkembang di beberapa wilayah, seperti Kampung Teluk Semanting, Teluk Sulaiman, Tembudan, Mangrove Sigending di Teluk Sulaiman dan kawasan Labuan Cermin. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa konservasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan secara seimbang apabila dikelola dengan baik.

Salah satu contoh nyata adalah pengembangan ekowisata mangrove di Kampung Teluk Semanting. Masyarakat memperoleh manfaat ekonomi melalui kegiatan wisata tanpa harus mengonversi atau merusak kawasan mangrove. Selain itu, berbagai usaha mikro seperti produksi amplang, keripik, dan produk olahan khas daerah turut berkembang sebagai sumber pendapatan alternatif yang tetap menjaga kelestarian lingkungan.

BACA JUGA:  Penambahan Arm Roll Terkendala Penolakan, DLHK Utamakan Persetujuan Masyarakat

Agar model tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan, diperlukan penguatan kapasitas masyarakat. Pelatihan kewirausahaan, pengolahan produk, pengemasan, pemasaran, serta manajemen usaha menjadi langkah penting agar nilai ekonomi yang diperoleh masyarakat semakin meningkat. Di sisi lain, masyarakat juga perlu dibekali kemampuan dalam melakukan patroli kawasan, pemantauan kondisi mangrove, pendataan keanekaragaman hayati, serta penyusunan aturan lokal untuk menjaga kawasan dari berbagai ancaman.

Pengelolaan mangrove berbasis masyarakat setidaknya memerlukan tiga strategi utama. Pertama, memperkuat tata kelola ekonomi melalui pengembangan usaha-usaha ramah lingkungan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Kedua, meningkatkan tata kelola kawasan melalui penguatan data biodiversitas, pemantauan kondisi ekosistem, dan perlindungan kawasan secara berkelanjutan. Ketiga, memperkuat kelembagaan masyarakat agar memiliki kapasitas organisasi, tata kelola keuangan, dan kemampuan pengambilan keputusan yang baik dalam mengelola kawasan mangrove.

Melalui pendekatan tersebut, konservasi tidak lagi dipandang sebagai upaya membatasi aktivitas masyarakat, melainkan sebagai sarana menciptakan keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan.

Pada akhirnya, mangrove memiliki nilai yang jauh melampaui fungsi ekologinya. Ekosistem ini berperan sebagai pelindung pantai dari abrasi, penyerap karbon, habitat berbagai biota perairan, sumber hasil hutan bukan kayu, pendukung perikanan, serta penggerak ekonomi melalui ekowisata dan usaha berbasis sumber daya lokal. Oleh karena itu, menjaga mangrove berarti menjaga masa depan lingkungan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat pesisir.

Selamat memperingati Hari Konservasi Mangrove. Semoga momentum ini semakin memperkuat komitmen semua pihak untuk menjaga kelestarian mangrove melalui pengelolaan yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat.(*)