Scroll untuk baca artikel
Iklan 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BerauBeritaPariwisataPemerintahan

Festival Bekudung Betiung Dorong Pelestarian Budaya dan Ekonomi Kampung Tumbit Dayak

127
×

Festival Bekudung Betiung Dorong Pelestarian Budaya dan Ekonomi Kampung Tumbit Dayak

Sebarkan artikel ini

ARAHNUSANTARA, TANJUNG REDEB (25/06/2026) – Kampung Tumbit Dayak, Kecamatan Sambaliung, terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga warisan budaya di tengah arus modernisasi melalui Festival Adat Bekudung Betiung yang dirangkai dengan peringatan Hari Jadi ke-263 kampung tersebut.

Festival yang telah masuk dalam kalender event wisata Kabupaten Berau ini kembali digelar meriah pada 2026. Tidak sekadar menjadi agenda tahunan, kegiatan ini juga menjadi simbol pelestarian budaya sekaligus penggerak ekonomi berbasis kearifan lokal.

banner 325x300

Kepala Kampung Tumbit Dayak, Ahmad Jamlan, mengatakan bahwa festival ini merupakan upaya mempertahankan identitas Dayak Ga’ai agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, modernisasi tidak boleh menjauhkan generasi muda dari akar budaya.

“Festival ini menjadi sarana untuk menjaga dan mengangkat identitas budaya serta adat istiadat Dayak Ga’ai agar tetap dikenal oleh generasi muda,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pelaksanaan festival juga membawa dampak positif bagi kampung, mulai dari meningkatnya kunjungan, promosi potensi daerah, hingga tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat. Dukungan pemerintah dan dunia usaha dinilai turut mempercepat pembangunan kampung.

Ahmad berharap dukungan dari berbagai pihak terus diperkuat, terutama dalam pengembangan kegiatan budaya, pembangunan fasilitas publik, serta pemberdayaan masyarakat.

Sementara itu, Wakil Bupati Berau, Gamalis, menilai Festival Bekudung Betiung memiliki nilai strategis karena mampu mengintegrasikan pelestarian budaya dengan pengembangan ekonomi kreatif.

Tradisi Bekudung Betiung sendiri mencakup sejumlah tahapan adat seperti Jak Gai, Batiung, Bejiak, hingga kunjungan ke Rumah Kepala Tua. Selain itu, terdapat tradisi Panjat Piruai, yaitu proses mengambil madu dari pohon tinggi yang mencerminkan hubungan erat masyarakat Dayak dengan alam.

“Tradisi ini memiliki nilai budaya yang sangat tinggi dan penting untuk terus dilestarikan, sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda,” ucapnya.

BACA JUGA:  Program Kementerian Sentuh Keraton Sambaliung dan Museum Gunung Tabur

Dengan status sebagai Kampung Mandiri, Tumbit Dayak dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata budaya unggulan di Kabupaten Berau, dengan kekuatan utama pada warisan budaya yang tetap hidup dan terjaga lintas generasi.-(*F)