ARAHNUSANTARA, Tanjung Redeb (15/05/2026) – Pemerintah Kabupaten Berau mengambil langkah strategis dalam menghadapi potensi inflasi pangan tahun 2026. Selain memastikan ketersediaan stok beras dan jagung, pemerintah daerah juga menggencarkan gerakan tanam cabai hingga ke pekarangan rumah warga guna menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menyampaikan bahwa kondisi inflasi di Kabupaten Berau saat ini masih relatif terkendali dibandingkan sejumlah daerah lain di Kalimantan Timur. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat harga pangan berpotensi mengalami fluktuasi.
Hal tersebut disampaikan saat dirinya mengikuti Rapat Koordinasi Pembahasan Langkah Konkret Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 bersama pemerintah pusat dan daerah, Senin (11/05/2026).
“Saya mengikuti arahan dari kementerian terkait untuk mengatasi inflasi. Alhamdulillah, untuk Kabupaten Berau sendiri masih berada di posisi tengah,” ujarnya.
Dalam upaya menjaga ketahanan pangan, Pemkab Berau memastikan stok beras di gudang Bulog dalam kondisi aman dengan cadangan sekitar 100 ton. Selain itu, pemerintah daerah juga merencanakan penanaman padi seluas 2.000 hektare pada periode Mei hingga Juli 2026 guna memperkuat pasokan pangan lokal.
Tak hanya beras, komoditas jagung juga menjadi perhatian. Saat ini, cadangan jagung di Kabupaten Berau mencapai sekitar 1.000 ton.
Sementara itu, komoditas cabai yang kerap menjadi pemicu inflasi turut mendapat perhatian khusus. Kabupaten Berau memperoleh bantuan dari Kementerian Pertanian berupa pengembangan lahan cabai seluas lima hektare yang akan dipusatkan di wilayah Talisayan.
Lebih lanjut, Sri Juniarsih menegaskan bahwa upaya pengendalian inflasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat. Ia meminta camat, kepala kampung, serta dinas terkait untuk mendorong warga menanam cabai secara mandiri di pekarangan rumah.
“Kami mengimbau kepada camat, kepala kampung, dan dinas terkait agar masyarakat dapat mandiri menanam cabai di rumah, setidaknya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,” katanya.
Langkah ini dinilai tidak hanya efektif dalam menjaga stabilitas harga pangan, tetapi juga mampu memperkuat ketahanan pangan keluarga di tengah tantangan ekonomi sepanjang tahun 2026.(*FJR)
















