ARAHNUSANTARA, BERAU – DPRD Berau melalui Komisi II menilai penambahan alat observasi laut di wilayah pesisir menjadi kebutuhan mendesak guna meningkatkan keselamatan nelayan sekaligus memperkuat sistem peringatan dini cuaca maritim.
Sebelumnya, BMKG Berau menyampaikan bahwa ketersediaan alat observasi laut masih terbatas, sehingga pemantauan kondisi perairan belum optimal. Saat ini informasi tinggi gelombang yang dapat diberikan BMKG umumnya hanya mampu diprediksi hingga tujuh hari ke depan, sementara informasi jangka panjang masih bersifat gambaran klimatologis umum.
Komisi II DPRD Berau Suriansyah menilai keberadaan alat observasi tambahan sangat penting, terutama bagi nelayan tradisional yang setiap hari bergantung pada kondisi cuaca dan gelombang laut.
Menurutnya, data observasi laut yang lebih lengkap akan membantu nelayan mengetahui perubahan cuaca lebih cepat sehingga dapat menghindari risiko kecelakaan di laut.
“Penambahan alat observasi bukan sekadar kebutuhan teknologi, tetapi menyangkut keselamatan nelayan kita. Informasi cuaca yang akurat dapat menjadi langkah pencegahan dini,” ujar Suriyansyah beberapa waktu lalu.
Observasi seperti alat Bantu mampu merekam parameter penting seperti arus laut, suhu permukaan, tekanan udara, hingga kecepatan angin secara real time yang kemudian digunakan untuk meningkatkan akurasi prakiraan cuaca maritim.
Data tersebut berperan penting dalam mendukung keselamatan aktivitas pelayaran dan masyarakat pesisir.
Disiai lain, peringatan dini terhadap gelombang tinggi, angin kencang, maupun potensi cuaca ekstrem dapat disampaikan lebih cepat kepada masyarakat, jika alat tersebut terintegrasi satu sama lain.
Komisi II DPRD Berau ini juga mendorong pemerintah daerah agar aktif berkoordinasi dengan BMKG dan pemerintah pusat guna memperjuangkan penambahan fasilitas observasi laut di wilayah Berau yang memiliki aktivitas perikanan dan transportasi laut cukup tinggi.
Hal ini dinilai penting mengingat perubahan cuaca di wilayah pesisir sering terjadi secara cepat dan berpotensi membahayakan nelayan, sebagaimana beberapa kali BMKG mengingatkan masyarakat pesisir agar waspada terhadap gelombang dan cuaca tidak menentu.
Ia menegaskan bahwa peningkatan teknologi pemantauan laut harus diarahkan pada perlindungan masyarakat pesisir, khususnya nelayan kecil yang paling rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem.
“Kalau informasi cuaca lebih cepat diterima nelayan, mereka bisa menentukan waktu melaut dengan aman. Ini bagian dari perlindungan ekonomi dan keselamatan masyarakat pesisir,” pungkasnya.
















