ARAHNUSANTARA, BERAU (17/04/2026)- Upaya pengembangan budidaya ikan Nila di Kampung Batu-Batu tak sekadar program perikanan biasa. Lebih dari itu, langkah ini menjadi bagian dari strategi besar membangun desa wisata berbasis ekonomi produktif melalui konsep NAGI (penguatan desa wisata terintegrasi).
Kerala Dinas Perikanan Kabupaten Berau Abdul Madjid menjelaskan. Pembangunan sektor budidaya ini diarahkan untuk menciptakan ekosistem ekonomi desa yang berkelanjutan. Tidak hanya berorientasi pada produksi ikan, tetapi juga menghubungkan sektor perikanan dengan pariwisata, kuliner, hingga pemberdayaan masyarakat lokal.
“Pembangunan ini juga akan melibatkan lintas sektor di perangkat desa. Memang harus ada keselarasan untuk merealisasikan hal ini,”terangnya.
Ia menambahkan Melalui penguatan budidaya ikan Nila, pemerintah kampung menargetkan terciptanya sumber pendapatan baru bagi warga. Program ini juga diharapkan mampu membuka lapangan kerja, sekaligus meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengelola usaha berbasis sumber daya lokal.
Sejalan dengan itu, budidaya ikan air tawar dinilai mampu menjadi solusi ketahanan pangan sekaligus peluang usaha yang menjanjikan bagi masyarakat desa.
Konsep ini tidak berdiri sendiri. Dalam skema desa wisata, budidaya Nila akan menjadi daya tarik tambahan. Kolam-kolam ikan nantinya dapat dikembangkan menjadi kawasan wisata edukasi, kuliner berbasis hasil perikanan, hingga spot rekreasi keluarga.
Menurut Madjid, model seperti ini telah terbukti mampu menggerakkan ekonomi desa secara signifikan, bahkan menciptakan perputaran ekonomi hingga miliaran rupiah per tahun di daerah lain yang menerapkan konsep serupa.
Sehingga Ke depan, dampak dari pengembangan ini diproyeksikan cukup luas. Selain meningkatkan pendapatan masyarakat, program ini juga akan memperkuat posisi Batu-Batu sebagai desa wisata berbasis potensi lokal. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dari hulu ke hilir—mulai dari pembenihan, pembesaran, hingga pengolahan hasil—menjadi kunci agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara merata
Lebih jauh, integrasi budidaya dengan konsep desa wisata NAGI juga diharapkan mampu mendorong kemandirian desa.
Dengan adanya sistem pengelolaan yang terstruktur dan berbasis potensi lokal, pembangunan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi menjadi investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat.
“Kita Berharap Agar Konsep ini sukses, dan dapat menjadi contoh bagi desa lain dalam menemukan Konsep wisata berbasis potensi lokal,”ujarnya.
Dengan demikian, budidaya nila di Kampung Batu-Batu bukan sekadar program sektor perikanan, melainkan fondasi menuju desa wisata mandiri yang produktif, berdaya saing, serta berkelanjutan.-(*FJR)
















