Scroll untuk baca artikel
Iklan 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BerauBerita

Bikin Bangga, Lima Putra Berau Raih Gelar Doktor Antropologi Unhas

232
×

Bikin Bangga, Lima Putra Berau Raih Gelar Doktor Antropologi Unhas

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR — Lima putra terbaik Kabupaten Berau resmi dikukuhkan sebagai doktor bidang Antropologi pada Selasa (11/11/2025). Mereka adalah Dr. M. Ichsan Rapi, ST., MT, Dr. Rahmatullah, Dr. Mupit Datusahlan, S.Si., M.Sc,. ST., MT, Dr. Ichwanul Jaya, ST., M.Si, dan Dr. Djufri, ST., M.S.P.

Lima nama ini bukan sekadar deretan gelar akademik baru. Mereka mewakili generasi intelektual daerah yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan pengabdian — ilmu yang tumbuh dari tanah, berakar pada masyarakat, dan berbuah bagi kemaslahatan umat.

banner 325x300

Sidang yudisium yang dipimpin Dekan FISIP Unhas, Prof. Phil. Sukri, S.IP., M.Si. serta mendapat apresiasi tinggi dari Kepala Program Studi Doktor Antropologi, Dr. Muhammad Basir, M.A., berlangsung khidmat namun sarat makna.

Dalam sambutannya, Dr. Basir menekankan keberhasilan lima doktor asal Berau ini menjadi bukti nyata bagaimana antropologi tidak sekadar studi tentang manusia, tetapi tentang kemanusiaan itu sendiri.

“Mereka datang dari latar belakang yang berbeda — pemerintahan, teknik, pendidikan, hingga sosial kemasyarakatan. Namun disatukan oleh semangat yang sama, yakni memuliakan manusia melalui ilmu pengetahuan,” ujar Dr. Basir.

Senada dengan itu, Dekan FISIP Unhas, Prof. Phil. Sukri, S.IP., M.Si, dalam pidato akademiknya menegaskan bahwa capaian ini adalah wujud nyata kolaborasi antara ilmu, nilai, dan dedikasi.

“Antropologi yang mereka teliti bukan sekadar teori, melainkan refleksi hidup dari pengalaman sosial yang nyata. Dari kampung, untuk dunia,” ungkapnya.

Dr. Mupit Datusahlan, mantan kepala kampung dan aktivis sosial, mengangkat tema autoetnografi kepemimpinan desa, menelusuri makna pengabdian dan inovasi sosial dari perspektif reflektif. Disertasinya dinilai menggugah — sebuah narasi etnografis tentang transformasi komunitas dari pinggiran.

Dr. M. Ichsan Rapi dan Dr. Rahmatullah, dua akademisi berlatar belakang teknik, menunjukkan bagaimana ilmu sosial dan teknologi dapat berpadu untuk membangun sistem tanggung jawab sosial dan ekologis yang lebih berkeadilan. Rahmatullah menyoroti praktik CSR di lingkar tambang. Sementara Ichsan memadukan pendekatan teknostruktural dan budaya dalam pembangunan berkelanjutan.

BACA JUGA:  Kunjungi SPPG Polsek Tanjung Redeb, Bupati Minta Tetap Jaga SOP Penyajian MBG Agar....

Dari sisi lain, Dr. Ichwanul Jaya menampilkan riset yang mengaitkan inovasi teknologi dengan perilaku sosial masyarakat modern. Sedangkan Dr. Djufri memperkaya diskursus kebijakan publik melalui pendekatan antropologi politik — menjembatani antara logika pemerintahan dan nilai-nilai budaya lokal.

Keberhasilan kelima doktor ini bukan semata hasil kerja keras individual, melainkan simbol dari bangkitnya semangat akademik di daerah. Kabupaten Berau, yang selama ini dikenal karena sumber daya alamnya, kini menorehkan sejarah baru sebagai daerah yang melahirkan intelektual berwawasan antropologis.

“Ini bukan hanya prestasi pribadi, tapi kebanggaan bagi daerah. Bahwa anak kampung pun bisa bicara ilmu di forum akademik tertinggi, selama mereka konsisten belajar dan berbuat,” ungkap salah satu promovendus seusai sidang, dengan nada rendah hati.

Dalam suasana yudisium yang hangat, para penguji eksternal dan internal memberikan apresiasi tinggi atas kedalaman riset kelima doktor tersebut. Mereka menilai karya-karya disertasi itu bukan hanya layak dipertahankan di ruang akademik, tetapi juga relevan untuk menjawab tantangan sosial di Indonesia hari ini.

“Antropologi, di tangan mereka, bukan lagi sekadar disiplin ilmu — tetapi menjadi alat perubahan sosial yang berakar pada nilai dan kebudayaan bangsa,” ujar salah satu penguji senior.(*)